Terkini
Memuat berita terkini...


JEJAK DIGITAL TAK BISA BOHONG: SEMUA PIHAK SEBENARNYA MENGINGKAN GIBRAN

JAKARTA I ELANG SUMUT -
Gambar ini menyajikan rangkuman peristiwa politik terkait keterlibatan Gibran Rakabuming Raka dalam bursa pencalonan wakil presiden pada Pemilu 2024, dengan sudut pandang pendukung pasangan Jokowi–Gibran. Inti narasinya: bukan satu pihak saja yang menginginkan kehadiran Gibran, melainkan sejumlah partai besar telah menyampaikan keinginan tersebut sejak awal.
 
Berikut uraian setiap poin:
 
 NasDem — Pernah Membuka Pintu untuk  Gibran
 
Ahmad Ali, juru bicara NasDem, menyatakan nama Gibran sempat dipertimbangkan sebagai calon wakil presiden mendampingi Anies Baswedan. Hal ini terjadi sekitar November 2022, bahkan tercatat Gibran dan Anies sempat makan bersama sebagai tanda pertemuan awal. Namun pada akhirnya NasDem menetapkan pilihan lain.
 
Gerindra — Prabowo "Ngotot" Meminta ke Jokowi
 
Sufmi Dasco menyampaikan bahwa Prabowo Subianto meminta restu kepada Presiden Jokowi sebanyak lima kali agar Gibran bersedia menjadi pendampingnya. Upaya ini digambarkan sungguh-sungguh dan berulang, bukan sekadar pembicaraan permukaan.
 
PDIP — Sendiri Membuka Peluang Gibran Mendampingi Ganjar
 
Puan Maharani menyebutkan bahwa jika syarat batas usia calon presiden/wakil presiden diputuskan oleh Mahkamah Konstitusi, maka nama Gibran turut masuk dalam pertimbangan sebagai calon wakil presiden mendampingi Ganjar Pranowo. Artinya, peluang itu pernah dibuka dari lingkungan partai pendukung pemerintahan Jokowi pula.
 
Golkar — Keputusan Resmi Rapimnas
 
Bukan sekadar wacana, pada 21 Oktober 2023 dalam Rapat Pimpinan Nasional, Ketua Umum Golkar Airlangga Hartarto secara resmi mengusulkan Gibran sebagai calon wakil presiden mendampingi Prabowo Subianto, dengan alasan memenuhi kriteria pemimpin muda yang berprestasi.
 
TINJAUAN BERIMBANG — PERSPEKTIF LAIN
 
Perlu dipahami bahwa narasi di atas adalah salah satu sudut pandang. Di sisi lain, muncul pandangan yang berbeda:
 
- Keputusan Gibran akhirnya maju sebagai cawapres mendampingi Prabowo juga memicu perdebatan, terutama terkait putusan Mahkamah Konstitusi yang mengubah batas usia calon, yang dinilai sebagian pihak menguntungkan secara khusus dan menimbulkan konflik kepentingan.
​
- Beberapa pihak menilai kehadiran Gibran membawa pengaruh kekuasaan presiden yang sedang menjabat ke dalam proses pemilu, sehingga persaingan dianggap tidak seimbang.
​
- Dari partai-partai yang disebutkan sempat mempertimbangkan, akhirnya hanya Golkar dan Gerindra yang tetap mengusung Gibran pada jalur yang dipilih.
 
 PENUTUP
 
Gambar ini menyampaikan bahwa kehadiran Gibran dalam bursa pencalonan bukanlah kehendak satu pihak semata, melainkan muncul dari berbagai arah pertimbangan para elit politik. Namun demikian, proses yang terjadi tetap mengundang pandangan beragam di tengah masyarakat. Sejatinya, dalam demokrasi yang sehat, perbedaan pandangan adalah hal yang wajar — yang penting kita tetap menjaga keutuhan bangsa, menghormati proses hukum dan konstitusi, serta menjadikan peristiwa ini sebagai pelajaran berharga bagi masa depan demokrasi Indonesia.
 
"Demokrasi tumbuh bukan dari keseragaman pendapat, melainkan dari kemampuan kita menghargai perbedaan dan berjalan bersama demi negeri."
 
Gunawan, S.H.