Terkini
Memuat berita terkini...


Joe Kacaw, Dari Suara Jalanan hingga Pulang Mengabdi di Sungai Ara

PELALAWAN I ELANG SUMUT  — Di Sungai Ara, nama Joe Kacaw bukanlah nama yang asing. Pria bernama asli Juhendri itu dikenal sebagai sosok yang tak banyak basa-basi ketika berbicara soal persoalan masyarakat.

“Berani bicara” menjadi frasa yang kerap melekat pada dirinya.

Lahir di Sungai Ara pada 11 Mei 1989, Juhendri tumbuh di tengah kehidupan masyarakat desa. Ia menyaksikan sendiri bagaimana warga berhadapan dengan persoalan sehari-hari: jalan yang rusak, pelayanan yang belum maksimal, hingga berbagai aspirasi yang terkadang membutuhkan waktu panjang untuk mendapatkan perhatian.

Pengalaman itu perlahan membentuk cara pandangnya.

Ketika sebagian anak muda memilih meninggalkan kampung halaman untuk mengejar kehidupan di tempat lain, Juhendri justru memilih bertahan. Ia mendengar cerita warga, turun ke lapangan, dan menyuarakan berbagai persoalan yang menurutnya perlu mendapatkan perhatian.

Dari aktivitas itulah namanya kemudian semakin dikenal melalui Gerakan Pemuda Peduli Pelalawan (GP3).

Namun bagi Joe Kacaw, menjadi aktivis bukan sekadar perkara lantang menyampaikan kritik.

“Kritik itu harus tajam, terukur dan elegan. Tapi jangan berhenti di kritik. Harus ada solusi yang bisa dimakan rakyat,” ujarnya.

Kalimat tersebut menggambarkan prinsip yang selama ini ia pegang: kritik harus memiliki arah dan pada akhirnya bermuara pada solusi.

Selama bertahun-tahun, ia berada di antara dua ruang. Di satu sisi, ia mendengar langsung keresahan masyarakat. Di sisi lain, ia berusaha membawa suara tersebut kepada para pemangku kepentingan.

Tidak semua kritik selalu mendapat respons yang sama. Namun bagi Juhendri, menyampaikan aspirasi masyarakat merupakan bagian dari tanggung jawab sosial.

Kini, perjalanan itu membawanya kembali ke tempat yang paling dekat dengan dirinya: Sungai Ara.

Kampung tempat ia lahir dan tumbuh itu kini tidak lagi hanya menjadi tempat untuk menyampaikan kritik. Ada keinginan untuk ikut mengambil bagian dalam proses pembangunan dari dalam.

“Ini bukan soal saya ingin jadi apa. Ini soal apa yang bisa saya perbuat untuk kampung halaman. Sungai Ara adalah rumah. Dan kalau rumah sendiri bocor, kita tidak bisa hanya menonton,” katanya.

Bagi Juhendri, pembangunan desa bukan pekerjaan satu orang.

Ada petani dengan tangannya yang akrab dengan lumpur. Ada nelayan yang sehari-hari bergelut dengan air. Ada pelaku UMKM yang berusaha mengembangkan usaha dari rumah. Ada pemuda yang membutuhkan ruang untuk berkembang. Ada pula tokoh agama dan tokoh adat yang memiliki peran penting dalam menjaga kehidupan sosial masyarakat.

Semua, menurutnya, memiliki tempat dalam pembangunan.

Sungai Ara yang ia bayangkan bukanlah desa yang maju karena kerja satu individu. Melainkan desa yang bergerak karena warganya merasa memiliki tujuan yang sama.

Dari seorang anak kampung yang sejak lama memilih bersuara ketika melihat persoalan, Juhendri alias Joe Kacaw kini memasuki fase baru dalam perjalanan hidupnya.

Jika dahulu ia lebih banyak berdiri di pinggir, menyampaikan kritik dan membawa aspirasi, kini ia ingin berada lebih dekat dengan proses pengambilan keputusan dan kerja nyata di tengah masyarakat.

Perjalanan itu tentu belum selesai.

Sebab membangun kampung halaman bukan pekerjaan sehari atau dua hari. Ia membutuhkan gagasan, keberanian, kerja bersama, sekaligus kesediaan untuk mendengar.

Dan bagi Joe Kacaw, semuanya bermula dari satu tempat yang sejak awal menjadi bagian dari hidupnya: Sungai Ara.

Tempat ia dilahirkan.

Tempat ia dibesarkan.

Dan tempat yang kini ingin ia perjuangkan dengan cara yang berbeda—bukan hanya dengan suara, tetapi juga dengan kerja.(Sy)