Oleh: Josef Herman Wenas
JAKARTA I ELANG SUMUT -
Pidato politik AHY pada 5 September 2026 menuai kontroversi dari mana-mana. Karena AHY adalah ketua umum partai, maka ada tiga audiens yang menyimak: ๐๐๐ฑ๐ถ๐ฒ๐ป๐ ๐ญ= kader Partai Demokrat; ๐๐๐ฑ๐ถ๐ฒ๐ป๐ ๐ฎ = elit politik; ๐๐๐ฑ๐ถ๐ฒ๐ป๐ ๐ฏ = publik nasional.
Ketiga audiens ini menginterpretasikannya sesuai persepsi mereka masing-masing. Kepentingannya pun beda-beda.
Ada tiga ๐ฌ๐ฆ๐บ ๐ช๐ด๐ด๐ถ๐ฆ๐ด dalam pidato AHY yang menuai kontroversi: (1)Kekuasaan bukan milik seseorang untuk selamanya; (2)Pemilu memiliki siklusnya; (3)Hak rakyat untuk memilih dan untuk dipilih.
Sangat sulit bagi para elite politik, jadi ๐๐๐ฑ๐ถ๐ฒ๐ป๐ ๐ฎ, untuk tidak membacanya dalam perspektif kontestasi politik di tahun 2029. Waketum Golkar Ahmad Doli Kurnia membaca gestur tersebut sebagai indikasi bahwa AHY mulai menjadi ๐ค๐ฐ๐ฏ๐ต๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ฆ๐ณ di Pilpres 2029.
Faktanya ๐ด๐ฑ๐ช๐ญ๐ญ๐ฐ๐ท๐ฆ๐ณ ๐ฆ๐ง๐ง๐ฆ๐ค๐ต-nya ke ๐๐๐ฑ๐ถ๐ฒ๐ป๐ ๐ฎ, khususnya di elit koalisi pemerintah, ditanggapi secara negatif. Sebab, mereka ini umumnya para politisi kawakan yang wawasannya luas, dan instingnya sangat tajam. Sedangkan elit oposisi (PDIP) relatif diam mengamati.
Begitu juga dengan ๐๐๐ฑ๐ถ๐ฒ๐ป๐ ๐ฏ, mayoritas ๐ต๐ฐ๐ฏ๐ฆ-nya juga negatif. Ini bila Anda melakukan ๐ฎ๐ฐ๐ฏ๐ช๐ต๐ฐ๐ณ๐ช๐ฏ๐จ komentar/reaksi di banyak pemberitaan media massa, maupun perbincangan para pengamat politik di berbagai siniar.
Satu-satunya Presiden RI petahana yang bisa dikalahkan oleh ๐ค๐ฐ๐ฏ๐ต๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ฆ๐ณ sepanjang sejarah ๐ฅ๐ช๐ณ๐ฆ๐ค๐ต ๐ฑ๐ณ๐ฆ๐ด๐ช๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐ต๐ช๐ข๐ญ ๐ฆ๐ญ๐ฆ๐ค๐ต๐ช๐ฐ๐ฏ๐ด di era Reformasi adalah Megawati Soekarnoputri. Itu terjadi di Pilpres 2004. ๐๐ฐ๐ฏ๐ต๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ฆ๐ณ-nya Jenderal SBY, bapaknya Mayor AHY.
Setelah kejadian di 2004 itu, petahana Presiden RI selalu menang atas ๐ค๐ฐ๐ฏ๐ต๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ฆ๐ณ๐ด mereka. Di Pilpres 2009, Megawati Soekarnoputri kembali dikalahkan oleh SBY. Di Pilpres 2019, Prabowo Subianto juga dikalahkan untuk kedua kalinya oleh Jokowi.
Apakah AHY-SBY sekarang sedang melihat gejala anomali pada Pilpres 2029, bahwa ada peluang Presiden Prabowo “di-Megawati-kan” seperti yang terjadi di tahun 2004?
Nampaknya demikian. Artikel kali ini akan membedah poin-poin rasionalisasinya.
Saya kira rencana SBY-AHY mengulang keberhasilan Pilpres 2004 inilah yang menjadi ๐ค๐ฐ๐ฏ๐ค๐ฆ๐ณ๐ฏ utama para politikus kawakan di ๐๐๐ฑ๐ถ๐ฒ๐ป๐ ๐ฎ.
Dan pertanyaan ini juga yang membuat acara puncak HUT ke-25 Partai Demokrat pada 9 September 2026 lalu sepi dari kehadiran para ketua umum parpol koalisi pemerintah.
Kontras banget dengan peringatan HUT ke-28 Partai Amanat Nasional (PAN) pada 18 September 2026, yang dihadiri hampir semua ketua umum parpol koalisi— kecuali Surya Paloh-Nasdem.
Pada acara HUT PAN ini, AHY-Demokrat “membalas” perlakuan para Ketum parpol koalisi, juga dengan ketidakhadiran!
Ini bukan urusan emosional belaka. Ada ๐ฑ๐ฐ๐ญ๐ช๐ต๐ช๐ค๐ข๐ญ ๐ด๐ช๐จ๐ฏ๐ข๐ญ๐ช๐ฏ๐จ yang dikirimkan oleh AHY-Demokrat.
Silahkan cermati terlebih dahulu tabel ๐ฃ๐ผ๐น๐ถ๐๐ถ๐ฐ๐ฎ๐น ๐๐๐๐ฒ๐ป๐ฑ๐ฎ๐ป๐ฐ๐ฒ: ๐ฎ๐ฌ๐ฎ๐ฒ ๐๐ป๐ป๐ถ๐๐ฒ๐ฟ๐๐ฎ๐ฟ๐ถ๐ฒ๐ ๐ผ๐ณ ๐๐ต๐ฒ ๐๐ฒ๐บ๐ผ๐ฐ๐ฟ๐ฎ๐๐ถ๐ฐ ๐ฃ๐ฎ๐ฟ๐๐ ๐๐. ๐ฃ๐๐ก di bawah. Tabel ini akan menjadi titik berangkat analisis kita kali ini.
๐๐ ๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐.....